text

Welcome to Audacia-papuj.blogspot.com and have a new world

Minggu, 07 April 2013

Komentar Pengakuan Eks Parasit Lajang





Kejujuran dan Metafora
Oleh: Pujo

Komentar berikut menggunakan cara induktif dengan teropong  gaya bahasa dan sendi-sendinya. Komentar  ini adalah sorotan yang berpeluang subjektif. Belajar dari H.B.Jassin.



Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Keraf. Hlm:113). Gaya bahasa yang baik tidak bisa lepas dari sendi-sendinya yang terdiri dari tiga unsur yaitu kejujuran, sopan-santun dan menarik. Gaya bahasa tidak akan mengaburkan kejujuran, menjauhkan kesopanan atau membuat cerita tidak menarik. Gaya bahasa memberi ketepatan, kejelasan dan tenaga bagi cerita.
Gaya bahasa metafora adalah perubahan makna karena persamaan sifat antara dua obyek. Ia merupakan pengalihan semantik berdasarkan kemiripan persepsi makna. Kata matahari, putri malam (untuk bulan), pulau (empu laut) semuanya dibentuk berdasarkan metafora (Keraf.Hlm: 98-99). Menurut Aristoteles, metafora adalah  gaya bahasa kiasan yang berkembang dari analogi, baik itu analogi kuantitatif dan kualitatif. Contoh: Raja singa telah pergi keperaduannya, Dewi malam telah keluar dari balik awan, Si penguasa laut berkeliaran kesana kemari, Pengakuan  Eks Parasit Lajang.
Bila dalam sebuah metafora, kita masih dapat menentukan makna dasar dari konotasinya sekarang, maka metafora itu masih hidup misalnya Perahu itu menggergaji ombak, kata menggergaji masih hidup dengan arti aslinya. Tetapi kalau kita tidak dapat menentukan konotasinya lagi, maka metafora itu sudah mati, sudah merupakan klise. Dengan matinya sebuah metafora, kita berada kembali di depan sebuah kata yang mempunyai denotasi baru (Keraf,Hlm.:139).
Metafora dapat berbentuk sebuah kata kerja, kata sifat, kata benda, frasa, klausa: menarik hati, memegang jabatan, mengembangkan, menduga. Bentukan metafora juga bersal dari berbagai unsur yaitu tumbuhan, hewan, alam, tubuh manusia, suasana, temapat dan lain-lain. Metafora bercitra hewan, biasanya digunakan oleh pemakai bahasa untuk menggambarkan satu kondisi atau kenyataan di alam sesuai pengalaman pemakai bahasa. Metafora dengan unsur binatang cenderung dikenakan pada tanaman, misalnya kumis kucing, lidah buaya, kuping gajah.
Metafora dengan unsur binatang juga dikenakan pada manusia dengan citra humor, ironi, peyoratif, atau citra konotasi yang luar biasa, misalnya, fable dalam Fabel MMM yang dikutip oleh Parera terdapat nama-nama seperti Mr. Badak bin Badak, Profesor Keledai, dan Majelis Pemerintah Rimba (MPR), dan lain-lain.Dalam metafora bercitra hewan diungkapkan oleh Parera (2004:120) bahwa manusia disamakan dengan sejumlah tak terbatas binatang misalnya dengan anjing, babi, kerbau, singa, buaya, dst sehingga dalam bahasa Indonesia kita mengenal peribahasa “Seperti kerbau dicocok hidung”, ungkapan “buaya darat”, dan ungkapan makian  ”anjing, lu”, dan seterusnya. Bagaimana dengan metafora “Eks Parasit Lajang”?


Cuplikan Novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang”
Cerita di awali dengan bab seorang gadis yang melepas keperawanannya dan menjadi peselingkuh. Bab ini  diawali dengan perkenalan sang tokoh A yang digambarkan sebagai remaja yang pada usia dua puluh aku memutuskan untuk menutup masa perawan.Namun keputusan tersebut  memunculkan sebuah pertanyaan kembali kepada siapa lelaki ideal yang tokoh inginkan? “Begitulah, sekali lagi, aku telah memutuskan untuk menutup masa perawanku. Tapi, siapa lelaki itu?” (Hlm. 11)
Dua lelaki itu ternyata adalah Nik dan Mat yang diharapkan memiliki agama yang sama. Tokoh A beragama katolik dan dua lelaki tersebut beragama berbeda dengannya. Konflik mulai muncul ketika  tokoh A mulai dekat dengan Mat dan kemudian tokoh A mulai tertarik pada lelaki yang bernama Nik dan pada bab skala tokoh sudah memiliki dua pacar. Pada suatu titik tokoh A harus mengambil keputusan, dan tokoh A sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Mat dengan alasan Indeks prestasi menurun.  Walaupun akhirnya ia jujur bahwa sudah ada lelaki lainnya. “ ia Tahu cinta memang tidak bisa dipaksakan”  (Hlm.28)
Kebimbangan itu  mulai muncul “ Sementara ini, kini Nik adalah pacarku ketika usiaku duapuluh tahun dan aku merasa matang untuk menutup masa perawanku. Aku mau melakukannya dengan Nik, meskipun aku belum yakin betul dengan keputusanku. Sebab sesungguhnya kami berdua datang dari keluarga yang taat beragama. (Hlm 29). Ada perumpamaan yang menutup bab ini perlu disimak “Seperti Adam seandainya ia menyalahkan Hawa karena buah Pengetahuannya yang dimakannya itu. Lalu sunyi sebentar. Seperti sunyi setelah guncang. Setelah itu mereka menginginkannya lagi. Begitulah. Setelah rantai reaksi ini terjadi beberapa kali, barulah mereka tahu bahwa tak ada lagi gunanya marah.Pada bab Pavlov, Puncaknya, aku betul-betul tidak sanggup mendamaikan konflik antara iman dan seksualitas (Hlm. 44). Cerita selanjutnya silakan baca novelnya.
Unsur Kejujuran Berbahasa
Kejujuran dalam bahasa  berarti mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa (Keraf.Hlm.: 114). Aturan berbahasa ini hakikatnya bukan hanya tata tulis saja. Aturan dan kaidah tersebut berkaitan dengan kata-kata yang jelas dan tidak kabur. Berikut kalimat-kalimat yang secara tepat untuk menunjukkan kejujuran berbahasa, Aku bukan perawan lagi. Ini tahap baru dalam hidupku (39). Aku telah berselingkuh dengan suami orang (71). Aku kini gadis yang memutuskan untuk melepas keperawananku (158), Aku tak mau menikah dengan siapapun (193)  Hal  itu dideskripsikan dengan lugas dan jelas. Kejelasan terbukti tanpa mengaburkan makna kata bukan perawan, telah berselingkuh, melepas keperawananku, tidak mau menikah. Pernyataan tokoh A tersebut mewakili unsur gaya bahasa yang baik yaitu kejujuran.
Perkara untuk mengungkap bahasa tokoh yang jujur bukan perkara yang mudah bagi manusia Indonesia terutama seorang perempuan lajang.  Menurut  Mochtar Lubis dalam “Manusia Indonesia” dengan tegas ia mengatakan “Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRIT alias MUNAFIK (Lubis: 18). Kalimat tersebut jujur menohok sekian juta penduduk Indonesia jika harus diganti pernyatan beliau dengan “salah satu ciri yang menonjol ialah tidak mengatakan suatu hal yang sebenarnya karena tidak enak hati (rasanya cukup panjang dan bertele-tele bukan). Manusia indonesia suka berpura-pura, lain dimuka, lain di belakang, dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan luar untuk menyembunyikan apa yang dirasakan.
Pembicara atau penulis yang tidak menyampaikan isi pikirannya secara terus terang; ia seolah-olah menyembunyikan pikirannya itu di balik rangkaian kata-kata yang kabur dan jaringan kalimat yang berbelit-belit tak menentu. Ia hanya mengelabuhi pendengar atau pembaca dengan mempergunakan kata-kata yang kabur dan “hebat” agar ia tampak lebih intelek atau lebih dalam pengetahuannya. Di pihak lain, pemakaian bahasa yang berbelit-belit menandakan bahwa pembicara atau penulis tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Ia mencoba menyembunyikan kekurangannya  di balik berondongan kata-kata hampa (Keraf.Hlm.114). Novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang” dihiasi dengan metafor-metafor yang tepat untuk mengonotasikan arti keperawanan, status perempuan, laki-laki, pernikahan, keluarga, dan lain-lain.
Metafora “Pengakuan Eks Parasit lajang”
Pada novel  setebal 302 halaman ini berderet kata-kata, frasa, klausa. Elemen-elemen itu   membangun cerita. Kata-kata tersebut secara sadar maupun tidak sadar menyatu, bertransformasi membentuk metafora untuk menandai objek lainnya. Metafora terbangun dari berbagai unsur seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, alam dan lain-lain. Berikut adalah unsur-unsur yang ditemukan dalam novel pengakuan eks parasit lajang 1)unsur-unsur hewan misalnya: parasit lajang, anjing pavlov, sarang penyamun, raja semut, prajurit gajah, monster, kepala piranha,2) unsur tanaman misalnya:  pohon pengetahuan,3)unsur alam misalnya:  matahari, 4)unsur sifat benda misalnya: tertangkap basah, sikap manis, karirnya redup, bujang lapuk, 5)unsur menunjukkan lokasi tempat dan waktu misalnya:  kantin sastra, media jepang, tepi semanggi, koran waktu, istana patriarki, jurang hitam, kota hujan lembah hutan, taman firdaus, benteng perkawinan, 6)unsur  tubuh manusia misalnya:  besar mulut, susumu saru (bahasa jawa) : payudaramu tabu, serangan jantung, bertalian darah dll.
Metafor-metafor tersebut mengandung kiasan kiasan yang dibatasi konteksnya. Konteks perempuan di lingkungan tatanan nilai Indonesia. Metafor-metafor itu berdiri sendiri sebagai kata untuk menandai objek, tempat, sifat, tindakan dan lain-lain.  Metafor “Eks Parasit Lajang” dibatasi pada konteks cerita. Konteks di dalam novel saja. Konteks tokoh A dengan segala pengakuannya. Konteks pengakuan seperti pengakuan St. Agustinus.
Metafor dari “pengakuan eks parasit lajang” tidak dapat dipisahkan satu persatu bagian saja, namun harus dilihat secara keseluruhan. Eks parasit lajang untuk menandai tokoh A status  lajang; bujang atau gadis  yang memiliki kemiripan sifat hewan parasit yakni organisme yang hidup dari inangnya. Parasit dalam KBBI adalah benalu yakni  tumbuhan yang hinggap dan menghisap pohon yang lain. Eks parasit lajang dapat didefinisikan mantan gadis atau bujang yang menumpang hidup pada orang lain. Definisi tersebut untuk menandai sifat tokoh A dalam cerita. Tokoh A yang mengakui dirinya tidak perawan lagi dan akhirnya menikahi suami orang lain maka ia ditandai oleh metafor pengakuan eks parasit lajang.
Metafora yang terkandung dalam novel Pengakuan eks Parasit Lajang kaya, variatif dan tepat. Terbentuknya metafora tersebut melalui  proses yang panjang, lewat pengamatan, pengindraan, pemikiran. “Bahkan tanpa membutuhkan penyuntingan oleh editor.  Itulah yang disebut bakat”. Pernyataan itu tercermin dalam  kutipan  berikut “Aku menemukan bakatku. Semua yang kutulis tak membutuhkan penyuntingan oleh editor. Strukturku baik. Logikaku lurus. Bahasaku cermat. Humorku ada. Metaforku kaya.” (Hlm. 65). Gaya metafora  menjadi ciri khas yang menonjol. Bagaimana jika gaya itu diubah? Bila gaya diubah, isi juga berubah. (Pradotokusumo:38).
Bila metafor ini dihubung-hubungkan dengan fokus pengarangnya. Maka novel ini sebuah karya berfungsi emotif. Fungsi emotif menggambarkan relasi pesan dan penerima: karya sastra merupakan hasil ekspresi penulisnya (Fiske, 2006:52). Dengan hanya berfokus pada pengarang, maka mempunyai potensi (1) konotasi pada biografi pengarang, (2) meninggalkan konotasi cerita kemudian hanya pada pengarang. Telaah itu justru menimbulkan sensasi saja akhirnya. Sensasi suka atau benci pada manusia (pengarang). Manusia nyata hanya menjadi diri mereka sendiri-kita boleh menyukai atau membenci mereka (Card: 40). Akan tetapi, tokoh A mengemban suatu tugas. Tokoh A diciptakan pengarang untuk melaksanakan tugas tersebut. Tugasnya sebagai pembuka pemikiran pembaca masa kini terhadap kemapanan tata nilai yang semu. Tugas menyampaikan kejujuran yang selama ini tersembunyi.
 Kesimpulan
Tokoh Aku yang menjadi pusat cerita, dengan segala tuturannya dan alur konfliknya dibangun sejujur-jujurnya tanpa tedeng aling-aling  (bahasa jawa) ; ditutup-tutupi. Tokoh aku dengan segala pengakuannya mewakili kejujuran bahasa itu sendiri.Untuk jujur tidak perlu menyembunyikan pikiran, perasaan dan apapun.  
Konotasi yang terkandung pada metafor menjadi konvensi kode cerita. Konotasi itu tak stabil  sesuai dengan sifatnya ( Eco:80) artinya konotasi pembaca satu akan berbeda dengan pembaca lainnya. Semua sangat bergantung pada proses di benak pembaca. Proses permenungan dan pemikiran. Maka silakan direnungkan.
Metafora dan kejujuran yang terangkai dalam cerita menjadi kekuatan pada novel ini. Metafor-metafor itu mewarnai kalimat demi kalimat  menjadi cerita yang menarik, menggelitik dan jujur. Kejujuran untuk menyatakan tanpa menyembunyikan sesuatu, tanpa berbelit-belit, tepat sasaran. Seperti diitulis jelas  dalam akhir prolog bahwa Buku ini adalah bagian dari perjalanan saya mengajukan pertanyaan dengan jujur mengenai hubungan pria dan wanita (Hlm.2).
Demikian sebaiknya sebuah karya modern semakin kaya bahasa, kaya metafora dan jujur.  Mengutip pernyataan H.B. Yasin, kita melihat betapa perlunya kita belajar memakai bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.


Bandung, April  2013

Sumber
Card, O.S.2005. Penokohan dan Sudut Pandang: mencipta sosok fiktif yang memikat dan dipercaya pembaca; penerjemah Femmy Syahrini; penyunting, Yuliani Liputo.-cet. 1-Bandung: Mizan Learning Center (MLC)
Eco, Umberto.1976. Teori Semiotika. Yogyakarta : Kreasi Wacana
Fiske, John.2006.Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar  Paling Komprehensif. Terj. Yosial Iriantana dan Idi Subandi Ibrahim. Yogyakarta: Jala Sutra
Keraf, Gorys. 2005.Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka
Lubis, Mochtar.2008. Manusia Indonesia (sebuah pertanggungjawaban). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Parera, Djos Daniel. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga
Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka
Pradotokusumo, P.S. 2001. Pengkajian Sastra. Bandung: Wacana

Kamis, 24 Januari 2013

Unsur-unsur Budaya Lokal dalam Buku Pegangan BIPA



Unsur-unsur Budaya Lokal dalam Buku Pegangan BIPA
Makalah untuk Buku Risa Bahasa Indonesia disusun oleh Robertus Pujo Leksono

This essay is a discussion of local wisdom elements contained in some textbooks that are used in one of the International school in Bandung, which backed the effort to put local wisdom in teaching materials. Problems in the study was about the extent to which learning handbooks BIPA placing material that carries the Festive local culture. The research objective is to improve the quality of teaching materials and provide feedback to the authors of the book. The research method is descriptive analytical study. The instruments used are forms of teaching materials which contain elements of local culture. The most prominent theme of local wisdom is a language written by Ian J. neighbor White and the First Lesson in Indonesian by Edmund A. Anderson.

Kata Kunci
Budaya Lokal dalam Buku Pegangan BIPA

I.                   Pengantar
Kata local wisdom  atau local culture diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti budaya lokal atau kearifan lokal. Pemahaman maknanya dapat dipandang dari berbagai pengertian baik dari keberadaannya di tengah-tengah budaya nasional dan regional. Pemahaman  budaya lokal menurut para ahli adalah sebagai berikut: Koentjaraningrat (2000). Koentjaraningrat memandang budaya lokal terkait dengan istilah suku bangsa, dimana menurutnya, suku bangsa sendiri adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan ’kesatuan kebudayaan’. Dalam hal ini unsur bahasa adalah ciri khasnya.
Pandangan yang menyatakan bahwa budaya lokal merupakan bagian dari sebuah skema dari tingkatan budaya (hierakis bukan berdasarkan baik dan buruk), dikemukakan oleh antropolog terkemuka, Judistira K. Garna. Menurut Judistira (2008:141), kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional.
Merujuk pada beberapa pandangan sejumlah pakar budaya dan atau antropolog di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa budaya lokal dalam definisinya didasari oleh dua faktor utama yakni faktor suku bangsa yang menganutnya dan yang kedua adalah faktor demografis atau wilayah administratif (Deni Adriana)
Budaya lokal berarti adalah semua keberadaan suku bangsa yang ada di Indonesia baik khasanah tradisi, hasil budaya, bahasa dan kearifannya. Pada tingkatan hierakis memang terletak atau melengkapi budaya regional.  Budaya lokal adalah hasil budaya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Budaya lokal yang akan digali dalam makalah ini dimaksudkan adalah ragam  kebudayaan lokal yang memungkinkan untuk diangkat sebagai materi dan media pembelajaran BIPA. Ragam tersebut terkait dengan kebutuhan peserta didik yakni orang asing yang hendak mempelajari Indonesia dan kebudayaannya. Maka akan diteliti lebih jauh unsur-unsur-unsur budaya lokal atau kearifan lokal yang terdapat dalam beberapa buku ajar BIPA.
1.                  Bahasa Tetanggaku penulis Ian J. White a notional-functional course in Bahasa Indonesia, Workbook, Stage two
2.                  First Lessons in Bahasa Indonesia Lesson Prepared for : Inter-Mission Language Center For Cross-Cultural Communication Bandung , Indonesia 1981 penulis Edmund A. Anderson  diterbitkan oleh Penerbit Kalam Hidup Jl. Naripan 67- Kotak Pos 156 Bandung.
3.                  Getting Started Right First Lesson in Bahasa Indonesia Unit 1 ditulis oleh Bambang R. Hartono
Buku-buku pegangan tersebut digunakan dalam pembelajaran IFL di salah satu sekolah International di Bandung. Buku tersebut merupakan contoh dari sekian banyak buku pegangan yang dapat digunakan dalam pembelajaran BIPA. Hal ini penting dalam pengajaran BIPA untuk mengetahui sejauh mana unsur-unsur budaya lokal telah dimasukkan sebagai materi ajar BIPA dalam buku-buku tersebut sehingga membantu bagi para pengajar untuk memilih buku pegangan yang tepat.

II.                Unsur-Unsur Budaya Lokal  dalam Buku Ajar BIPA
2.1              Bentuk-Bentuk Budaya lokal
Bentuk–bentuk budaya lokal yang dapat digunakan sebagai media dan materi ajar cukup berlimpah hal ini dapat dibuktikan dengan begitu banyaknya ragam suku bangsa yang ada di Indonesia misalnya : sastra rakyat, artikel yang membahas suatu tempat wisata, tradisi lokal, pakaian daerah, lagu daerah, kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal, peraturan-peratuaran lokal, dan hukum setempat.
Materi ajar yang menarik dengan menggali lebih dalam unsur-unsur lokal dalam masyarakat Indonesia tentu saja akan menjadi daya tarik bagi para peserta didik. Hal-hal yang tidak dimiliki oleh orang asing dan ingin diketahuinya menjadi daya pemikat dalam pembelajaran. Buku pegangan sebagai salah satu media pembelajaran tertulis merupakan alat bagi guru pembimbing dan siswa yng disusun untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. Proses interaktif dalam pembelajaran menjadi kesempatan dalam penyampaian informasi, pengetahuan, nilai-nilai budaya lokal yang kelak berguna bagi para siswa asing.
2.2              Budaya Lokal dalam Buku Pegangan
2.2.1        Bahasa Tetanggaku ( Ian J. White)
Buku dengan judul Bahasa Tetanggaku mengajarkan kemampuan berkomunikasi dan mengembangkan keluasan kegunaan bahasa Indonesia secara umum  dalam kehidupan, menunujukkan kebudayaan dan bahasa yang relevan bagi para pelajar di australia. Tata bahasa diajarkan sebagai bahan komunikasi
Bahasa Tetanggaku berisi hasil revisi dan latihan pembelajaran memuat bacaan, mendengarkan, tes berbicara seperti teka-teki silang, dan puzzle, dan dilengkapi pula dengan kaset. Siswa yang menguasai buku Bahasa Tetanggaku akan mudah mengerti bagaimana situasi Indonesia dan akan merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Unsur-unsur Budaya lokal dalam buku ini ditunjukkan dengan kalimat/frase/kata
Unsur-unsur budaya lokal
Kalimat dalam bentuk soal, artikel, keterangan maupun lagu
Analisis
Pertunjukan
Nanti malam kita akan menonton wayang kulit (latihan 2.8, Hlm 24)
Mengangkat budaya wayang kulir dalam latihan soal
Makanan tradisional
Pak Arikunto mendekati penjual sate di depan rumahnya (Lat. 2.14, Captions 2)
Mengangkat jenis makanan tradisional Madura yakni sate
Masakan Jawa tengan dan masakan Jawa Barat berlainan ( Lat, 3.2, soal benar salah)
Membahas perbedaan masakan Jawa Tengah dan Jawa Barat
Gado-gado (ingredient) Hlm 46
Membahasa mengenai resep untuk membuat gado-gado pada topic materi memasak
Tradisi
Approaching Lebaran, Indonesian people prepared food for visitors/make new clothes
Mengangkat tradisi lebaran sebagai tradisi memperingati hari raya Idul fitri
Peninggalan
Basuki: Nah! Kami sudah sampai di puncak Candi Borobudur.
Candi salah satu peninggalan budaya hindu dan budha
Suku
Orang Minangkabau berasal dari mana (lat 3.6 soal 3)
Pertanyaan berkaitan nama salah satu suku bangsa di Sumatera Barat.

Dari sampul buku tampak bahwa hal yang berkaitan dengan buday sudah dimunculkan dengan gambar sketsa patung bali. Hal tersebut menunjukkan bahwa unsur Indonesia secara khusus budaya dimunculkan dengan secara langsung pada kalimat-kalimat yang terdapat pada soal latihan dalam buku tersebut seperti tampak pada tabel bahwa ada lima unsuir-unsur budaya yang dibahas dalam buku pegangan ini yakni seni pertunjukan, makanan tradisional, tradisi, peninggalan, suku.
Para siswa yang menggunakan buku ini secara tidak langsung dapat menggambarkan situasi di Indonesia dan belajar bagaimana car berinteraksi dengan orang Indonesia. Seni pertunjukan wayang yang berasal dari jawa, berbagai makanan seperti gado-gado, dan tradisi lebaran.
2.2.2        First lesson in Bahasa Indonesia (Edmund A. Anderson)
Buku pegangan dengan judul First Lesson in Bahasa Indonesia bertujuan untuk pembelajaran bahasa Indonesia dengan tehnik pedagogis dan analisis yang dikembangkan di era Linguistik Amerika. Hasil studi analisis dengan ilmu linguistic sosiologi dan antropologi. Hal ini ditujukkan sebagai bentuk pembelajaran sehari-hari dalam penggunaan bahasa.
Harapan dari buku ini dimaksudkan sebagai sarana bagi para siswa asing yang hendak belajar bahasa Indonesia tidak hanya menyediakan tentang infomasi mengenai Indonesia saja namun pula tentang situasi sosial yang terjadi di Indonesia. Karena adanya alasan bahwa bahasa akan terus dinamis dan berubah-ubah seiring dengan waktu.
Unsur-unsur Budaya lokal dalam buku ini ditunjukkan dengan beberapa aspek
Unsur-unsur budaya lokal
Kata/Kalimat
Analisis
Pertunjukan
Indonesia mengadakan seminar pewayangan (Hlm 143)
Kalimat tersebut memperkenalkan salah satu budaya pertujunjukan jawa.
Karakter
Berbicara keras-keras kurang sopan
Tertawa keras-keras untuk wanita juga jelek
Kita harus berbicara dengan halus
Mengapa orang muda harus duduk lebih rendah dari orang tua mereka (Hlm.65)
Beberapa kalimat tersebut mengandung nilai-nilai sopan santun yang dimiliki orang Indonesia
(8) Kemudian keramah tamahan orang Indonesia, juga kesediaan mereka untuk membantu orang asing seperti saya, sangat membesarkan hati saya(Hlm. 136)
Sikap ramah-tamah yang menjadi ciri khas orang Indonesia
Dia tak senang dengan cara menyogok (Hlm.111)
Karakter budaya menyogok merupakan karakter negative yang kadang kala masih ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia
Tradisi
Orang-orang Indonesia makan nasi tiap-tiap hari (Hlm.38)
Nasi adalah makanan pokok orang Indonesia
Iyah, kan mau lebaran. Kita mau dapat hadiah lebaran berupa kain tekstil kira-kira tiga meter (165)
Lebaran adalha hari raya idul Fitri yang sering digunakan orang Indonesia sebagai wak tu silaturahmi
Kebiasaan
Di Indonesia orang berjalan di sebelah kiri (Hlm…)
Kebiasaan yang berbeda dengan kebiasaan orang eropa bahwa berjalan di sebelah kiri
Di jawa tengah biasanya orang perempuan mengambin bakulnya  (105)
Cara membawa bakul yang biasa di lakukan para perempuan suku jawa
Suku
Language : Hindu, Arab, Sunda, Jawa, Batak (Hlm.15)
Ada berbagai macam bahasa yang terdapat di Indonesia karena aneka ragam suku terdapat di Indonesia.
Alat alat masak
B:Cangkir adalah alat dapur
Kalimat tersebut terdapat pada kalimat pertnyaan benar salah
  
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui mengenai unsur-unsur budaya lokal yang terkandung dalam kalimat/frase/kata dalam bentuk soal, keterangan, atau bacaan mengangkat seni pertunjukan karakter orang Indonesia, tradisi, kebiasaan suku dan peralatan dapur.   Buku ini mengangkat mengenai sikap sopan-santun dalam berbicara dan bertindak misalnya:
Berbicara keras-keras kurang sopan,Tertawa keras-keras untuk wanita juga jelek, Kita harus berbicara dengan halus
Mengapa orang muda harus duduk lebih rendah dari orang tua mereka (Hlm.65)

2.2.3        Getting Started Right First Lesson in Bahasa Indonesia  (Bambang R. Hartono)
Getting Started Right First Lesson didisain sebagai seri pembelajaran Bahasa Indonesia yang dikombinasikan  dengan teknik pedagogis dan analitis yang dikembangkan era linguistik Amerika. Buku ini ditujukan sebagai pembelajaran bahasa yang dapat dipakai sehari-hari dengan cara yang mudah . Buku ini dibuat sedemikian rupa sebagai bahasa percakapan yang sesuai dengan situasi lingkungan Indonesia.  Pembelajaran bahasa melalui pembicara langsung dalam peristiwa komunikasi secara langsung (Noam Chomsky) diharapkan dengan menggunakan buku ini dapat memperkaya kemampuan berbahasa dengan melihat hal ihwal kehidupan langsung masyarakat Indonesia
Unsur-unsur Budaya lokal dalam buku ini ditunjukkan dengan beberapa aspek
Unsur-unsur budaya lokal
Kalimat(Latihan)
Analisis
Sopan-santun
 Mengapa orang Indonesia membuka dan menutup pintu dengan pelan-pelan (Hlm.78)
Kesantunan dalam tindakan ditunjukkan dengan cara menutup pintu

Mengapa orang jawa tidak suka berbicara atau tertawa keras-keras (Hlm 79)
Cara berbicara dengan menjaga kesantunan bagi masyarakat jawa.
Lagu-lagu tradisional
Orere (Timor-timor)

Salah satu propinsi yang kini telah memisahkan diri dari NKRI
Dodolitdodolibret /Sumatera Utara (Lampiran 03)

Soleram /Maluku (Lampiran 04)

  
Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa hanya sedikit kalimat atau kata yang mengandung unsure budaya lokal namun adanya lampiran lagu-lagu tradisional member kesan bahwa buku inti tetap mengangkat budaya lokal.

III.             Penutup
Budaya lokal merupakan pembentuk kebudayaan nasional, keanekaragaman budaya di Indonesia menjadi kekayaan dan sumber daya materi ajar yang variatif kepada para siswa asing yang ingin mengetahui Indonesia.
Terdapat berbagai macam buku pegangan sebagai media pembelajaran BIPA. Ada tiga buku yang dibandingkan bukan untuk mencari kelemahan dan keunggulan namun untuk mengetahui unsur-unsur budaya lokal yang terkandung di dalmnya. Selanjutnya akan menjadi pertimbangan bagi para pengajar BIPA dalam menentukan materi ajar. Hal yang  menjadi saran bagi para penulis buku ajar BIPA untuk mengangkat keanekaragaman budaya lokal di Indonesia
Dapat disimpulkan bahwa buku ajar Bahasa Tetanggaku paling banyak mengangkat budaya lokal dengan memasukkan berbagai unsur budaya lokal seperti seni pertunjukkan, makanan tradisional, peninggalan, suku dan lain-lain demikian juaga dengan buku First Lessons in Bahasa Indonesia dibandingkan dengan buku Getting Started Right. Buku pegangan tersebut masing-masing mengangkat unsur –unsur budaya lokal dengan berbagai cara baik dalam soal, kalimat pernyataan, bacaan dan lagu seperti pada buku Getting Started Right.
Harapannya perkembangan buku-buku pegangan saat ini mulai mengeksplorasi unsur-unsur budaya lokal yang tidak hanya didominasi budaya jawa atau bali saja namun masih banyak budaya lokal suku-suku lainnya yang belum diperkenalkan dalam buku ajar BIPA. Bangsa Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke tentu begitu kaya raya, maka baiklah kita angkat demi kejayaan bangsa.





DAFTAR PUSTAKA
Adriana, Deni.2000. Budaya Lokal Definisi dan Ruang Lingkupnya: Cultural Studies center for cross cultural communication  Bandung , Indonesia.  Kalam Hidup: Bandung
Anderson,  Edmund A. 1981. First Lesson in Bahasa Indonesia: Lesson prepared for: Inter Mission  language
Garna, Judistira K. 2008. Budaya Sunda : Melintasi Waktu Menantang Masa Depan. Bandung : Lemlit Unpad.
Hartono, Bambang. R. 1973. Getting Started Right. First Lesson in Bahasa Indonesia. IMLAC
Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta : Tiara Wacana.\
Koentjaraningrat. 2000. Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional, Jakarta : UIP,
White. Ian J.1989. Bahasa Tetanggaku: A notonal functional course in Bahasa Indonesia. Longman Chesire Pty Limited: Melbourne

Ranking