text

Welcome to Audacia-papuj.blogspot.com and have a new world

Sabtu, 02 Juli 2011

Strategi Pembelajaran Puisi dengan Teknik Membuat Presentasi Film



BAB I

PENDAHULUAN

Pembelajaran adalah “ penguasaan atau pemerolehan pengetahuan tentang suatu subjek atau sebuah keterampilan dengan belajar, pengalaman, atau intruksi. (seorang psikolog pendidikan mendefinisikan pendidikan lebih padat lagi yakni “sebuah perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman” (Slavin, 2003, h.138) Berdasarkan definisi tersebut diharapkan   dari sebuah pembelajaran akan memberikan penguasaan dan memperoleh pengetahuan tertentu dengan membaca , berbicara , menulis atau mendengarkan bagi para siswa.

Pengajaran dapat didefinisikan sebagai “ menunjukkan atau membantu seseorang mempelajari cara melakukan sesuatu, memberi intruksi, memandu dalam pengkajian sesuatu, menyiapkan pengetahuan, menjadikan tahu atau paham”

Komponen definisi tentang pembelajaran:
1.      Belajar adalah menguasai atau” memperoleh”
2.      Belajar adalah mengingat-ingat informasi atau ketrampilan
3.      Mengingat-ingat itu melibatkan system penyimpanan, memori, organisasi kognitif
4.      Belajar melibatkan perhatian aktif sadar pada dan bertindak menurut peristiwa –peristiwa di luar serta di dalam organisme
5.      Belajar itu relative permanen tetapi tunduk pada lupa
6.      Belajar melibatkan pelbagai bentuk latihan, mungkin latihan yang ditopang dengan imbalan dan hukuman
7.      Belajar adalah perubahan dalam perilaku

Konsep-konsep tersebut juga membawa kita ke sejumlah subbidang dalam disiplin psikologi: proses pemerolehan, persepsi, system memori (penyimpanan), memory jangka pendek dan panjang, pengingatan kembali, gaya dan strategi belajar sadar dan bawah sadar, teori lupa, dorongan dengan imbalan hukuman, pentingnya latihan.
Pengajaran tidak bisa didefinisikan terpisah dari pembelajaran. Pengajaran adalah memadu dan memfasilitasi pembelajaran. Pemahaman Anda tentang bagaimana pembelajar belajar akan menentukan filosofi  pendidikan  Anda, gaya mengajar Anda, pendekatan, metode, dan teknik mengajar Anda di kelas. Jika Anda seperti  B.F. Skiner, melihat  pembelajaran sebagai proses pengondisian ke arah perilaku spontan, yang dicapai melalui program pelatihan dengan imbalan dan hukuman, maka akan seperti itulah Anda mengajar. Jika Anda memandang pembelajaran sebagai proses deduktif daripada induktif  maka model pengajaran akan sesuai dengan pandangan Anda.

Pengajaran sastra di sekolah sangat beragam, mulai dari pengenalan sejarah sastra, pengajaran yang isinya teori tentang penulisan karya sastra, dan pengajaran apresiasi sastra yang melibatkan unsur teori dan emosi. Kegiatan apresiasi ini sangat diperlukan dalam pengajaran sastra. Dalam kegaiatan apresiasi, siswa akan dapat lebih memahami karya sastra.
            Menyadari pentingnya pengajaran sastra dilihat dari peranannya dalam mencapai berbagai aspek tujuan pendidikan, kini muncul tanggapan-tanggapan negatif mengenai pembelajaran sastra, baik dari pengajar sastra maupun dari kalangan sastrawan. Pada dasarnya mereka berpendapat bahwa pembelajaran sastra masih merupakan pembelajaran yang bermasalah, seperti yang diungkapkan oleh Sumardjo dan Saini (1986:vii), pengajaran sastra di sekolah-sekolah tampaknya masih menghadapi berbagai masalah. Hal itu dapat disimpulkan dari banyaknya keluhan, baik jumlah dan mutu pengajar, jumlah dan mutu buku-buku yang dipergunakan, maupun tentang hasil belajar, yaitu, tingkat minat, kemampuan menikmati, dan menghargai karya-karya sastra dari pihak siswa sendiri.
            Banyak kritikan yang disampaikan terhadap pengajaran sastra, misalnya siswa tidak terlibat dengan kegiatan membaca dan menelaah sastra, dan gurupun tidak mempersiapkan diri dengan landasan pembelajaran sastra. Noer Tugiman (dalam Jabrohim, 1994:16) menyoroti rendahnya pengajaran sastra yang bersifat apresiatif. Tujuan sastra di sekolah-sekolah pada umumnya lebih ditekankan pada penguasaan pengetahuan yang bersifat teoretis dan jarang sekali siswa disuguhi pengajaran yang bersifat apresiatif.
Tujuan dari pembelajaran kesusastraan bukan “ membentuk “ siswa menjadi sastrawan atau ahli sastra, melainkan “ hanya “ membimbing siswa agar dapat memahami, menikmati, dan menulis karya sastra sederhana. Asul Wiyanto( 2005:1). Berdasarkan tujuan tersebut diharapkan siswa dapat memahami karya sastra dan menikmati sebagai pengalaman hidup.

            Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pengajaran sastra kurang mengarah pada segi apresiatif. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor sarana buku pelajaran, guru, sistem ujian, dan sastra Indonesia itu sendiri.
            Faktor pertama menyangkut masalah ada tidaknya buku-buku pelajaran sastra. Berkaitan dengan hal itu, Sumardjo dan Saini (1986:vi) menjelaskan bahwa bacaan yang berbobot masih kurang dan karya sastra hanya dijadikan hapalan judul buku dan pengarangnya, sehingga pada akhirnya anak didik kebingungan dalam memilih bahan bacaan yang berbobot.
            Faktor sarana menyangkut tidak adanya perpustakaan sekolah yang cukup memadai sehingga buku-buku sastra yang tersedia kurang mendukung tercapainya tujuan pengajaran.  Selanjutnya, faktor guru ditinjau dari cara menyajikan materi, guru lebih menekankan pengetahuan tentang sastra dan kurang memperhatikan kemampuan siswa dalam mengapresiasi dan mengekspresikan karya sastra. Hal itu didukung pula oleh kondisi siswa yang merasa jenuh ketika harus belajar bahasa yang dianggapnya membosankan, ditambah lagi tidak adanya media yang merangsang mereka untuk bisa menyukai pelajaran sastra, dalam hal ini yaitu pelajaran menulis cerpen.
            Kebanyakan siswa merasa tidak mampu ketika memahami puisi. Hal ini dipertegas oleh Agustini (1997:88), siswa tidak menyenangi pelajaran apresiasi puisi. Banyak faktor siswa tidak menyukai pelajaran mengarang atau menulis, karena :
1.      siswa merasa tidak memiliki bakat menulis,
2.      siswa banyak menemui kesulitan dalam mengarang,
3.      siswa jarang berlatih menulis,
4.      guru tidak terampil mengajarkan menulis,
5.      guru kurang memotivasi siswa dalam menulis.
            Dari sekian banyak kerancuan dan pergolakan dalam dunia sastra, media pembelajaran sastra merupakan sesuatu yang perlu dikaji dan ditilik keberadaanya. Karena bukan tidak mungkin dari permasalahan ini akan berimplikasi kepada hasil karya lainnya. Keterkucilan bidang sastra, sekaratnya pasar dan lesunya penjualan buku sastra, dan keengganan para siswa membaca buku-buku sastra, minimnya kuantitas dan kualitas koreksi terhadap karya sastra. Hal ini berimbas kepada kemampuan untuk berekspresi dalam sastra, sangat sulit kita temukan saat ini para anak muda bangsa yang gemar membaca puisi, atau gemar bermain drama. 

 
            Keadaan sulit ini mesti menjadi pemikiran kita bersama. Karya sastra mampu memberikan pelajaran kehidupan bagi penikmatnya. Tetapi keadaan kurikulum sekarang ini di sekolah-sekolah lebih menekankan kepada kemampuan berbahasa dengan lebih banyak mengorbankan aspek apresiasi sastra. Tentu sebuah hal yang sangat ironis bagi keberlangsungan sastra itu sendiri.
            Untuk mengatasi masalah di atas, guru selaku fasilitator dalam pembelajaran harus mampu menciptakan inovasi dalam pembelajaran. Salah satu inovasi yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan media film. Teknik ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi kebosanan siswa saat belajar sastra, contohnya mengapresiasi puisi. Media film  adalah media yang digunakan siswa untuk berkreasi menyusun gambar-gambar yang mengangkat sebuah puisi.  
            Sebagai salah satu  media pembelajaran diharapkan dapat menarik perhatian siswa untuk menyenangi pelajaran menulis dan membaca puisi. Siswa dapat menikmati dan mengalami pengalaman berkativitas belajar menulis dan membaca puisi. Tentu saja akan menambah wawasan mengenai apresiasi puisi menjadi berkembang.
           


BAB II
ISI

A.       Apresiasi Puisi
            Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin aprecatio yang berarti mengindahkan atau menghargai. Secara terminologi, apresiasi sastra dapat diartikan sebagai penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra. Dalam konteks yang lebih luas istilah apresiasi mengandung makna pengenalan, pemahaman, dan pengakuan terhadap nilai-nilai kehidupan yang diungkapkan pengarang. Apresiasi sastra adalah sebuah proses yang melibatkan tiga aspek yaitu, aspek kognitif, aspek emotif, dan aspek evaluatif.
            Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelektual pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif itu selain dapat berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra atau unsur intrinsik, juga dapat berkaitan dengan unsur-unsur di luar teks yang secara langsung menunjang kehadiran teks sastra itu sendiri.
            Aspek emotif berkaitan dengan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca. Selain itu, unsur emosi juga sangat berperan dalam upaya memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur-unsur signifikan tertentu, misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis.
            Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik atau buruk, indah atau tidak indah, sesuai atau tidak sesuai serta sejumlah ragam penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. Dengan kata lain, keterlibatan unsur penilaian dalam hal ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator yang telah mampu merespon teks sastra yang dibaca sampai pada tahapan pemahaman dan penghayatan, sekaligus juga mampu melakukan penilaian.
            Belajar apresiasi sastra pada dasarnya adalah belajar tentang hidup dan kehidupan. Melalui karya sastra,  manusia akan memperoleh asupan batin, sehingga sisi-sisi gelap dalam kehidupan bisa tercerahkan lewat kristalisasi nilai yang terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya sebagai layar tempat diproyeksikan pengalaman psikis manusia.
            Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak maju. Kehadiran sastra dirasa semakin penting untuk disosialisasikan melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai diharapkan para alumnus  pendidikan mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan dewasa.
            Kegiatan berekspresi sastra diartikan sebagai kegiatan mengungkapkan perasaan lewat karya sastra. Banyak cara yang dilakukan seseorang ketika mengungkapkan perasaannya. Sekadar untuk menyimak arus karya-karya yang sudah terlahir dari dunia pendidikan dan yang ada di berbagai media, khususnya tentang perkembangan sastra.
B.     Puisi

Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).

Menurut Vicil C. Coulter, kata poet berasal dari kata bahasa Gerik yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Gerik, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka pada dewa-dewa. Dia adalah orang yang mempunyai penglihatan yang tajam, orang suci, yang sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Situmorang, 1980:10)).
Ada beberapa pengertian lain.
a.       Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
b.      Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
c.       Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
d.      William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
e.       Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang dari pikiran-pikiran yang paling senang.
f.        Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
g.       Lescelles Abercrombie (Sitomurang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat.


C.        Teknik Apresiasi Puisi dengan Pembacaan Puisi Media Film

1.       Cara Menulis Puisi
Kemampuan menulis puisi sering dianggap sebagai bakat. Sehingga orang yang tidak memiliki bakat tidak dapat menulis puisi. Anggapan seperti itu tidak selalu benar karena kalau kit abaca kisah sejumlah sastrawan, ternyata merekapun banyak berlatih. Pengaruh bakat itu terbukti kecil sekali. Bahkan dapat dikatakan bahwa bakat tidak ada artinya tanpa pelatihan. Sebaliknya, tanpa bakatpun seorang yang rajin belajar dan giat berlatih dia akan terampil menulis puisi.
Dalam menulis puisi pertama-tama yang harus ditentukan adalah pokok persoalan yang hendak dikemukakan dalam bentuk puisi. Jika sudah ditentukan tema maka dilanjutkan dengan mengembangkan tema dalam mengembangkan tema tentukan kemudian pilihan kata, majas dan citraan.

2.       Pembacaan Puisi
Membaca puisi ada dua macam, yaitu membaca untuk diri sendiri dan membaca untuk orang lain. Membaca puisi untuk orang lain pada dasarnya sama dengan mengkonkretkan puisi tersebut baik dalam bentuk audio maupun visual. Pembacaan demikian disebut juga deklamasi. Deklamasi sebagai suatu proses, melibatkan (1) puisi yang dibaca, (2) pembaca, dan (3) pendengar
            Dalam proses pembacaan tersebut, peran pembaca amat dominan untuk menghidupkan puisi agar dapat dinikmati oleh pendengar. Artinya pembacalah yang paling banyak melakukan kegiatan dalam proses pembacaan puisi. Kegiatan yang dilakukan pembaca adalah memahami makna puisi, dan mengkreasikan puisi tersebut dalam bentuk suara dan gerak. Oleh karena itu, pembaca harus memperhatikan :
(1)  Pemanfaatan alat ucap
(2)  Menguasai faktor kebahasaan
(3)  Menguasai faktor-faktor nonkebahasaan

3.       Penyusunan dalam Film
Penyusunan film adalah proses pemilahan gambar, pemaduan gambar dengan efek, pemaduan gambar dengan suara, penghapusan bagian yang tidak perlu dan penyusunan berdasarkan estetika film.  Penyusunan film diurutkan berdasarkan urutan pendahuluan yang berisi (judul, dan pembuatnya, ) isi berupa tayangan pembacaan puisi dan penutup berupa ulasan dalam bentuk tulisan bergerak.
Penyusunan sebuah film sederhana atau disebut film pendek dapat menggunakan berbagai macam program editing film yang sederhana maupun professional. Jenis-jenis program editing misalnya:
a.       Ulead Video Editing yaitu program video editing yang memberikan berbagai efek dan contoh yang disertai program untuk pembuatan credit title dan effect, program ini sangat mudah untuk dipelajari oleh pemula
b.      Windows Movie Maker yaitu program edit film yang sudah ada pada perangkat komputer dengan program windows
c.       Microsoft Power Point adalah program yang terdapat dalam program Microsoft office yang biasa digunakan dalam presentasi namun penyusunan film terbatas karena haya sekadar untuk penyusunan presentasi
d.      Pinnaple Video Edit  yaitu program professional untuk para ahli pembuat film

4.       Manfaat teknik presentasi media film
Berikut ini manfaat dari presentasi dengan media film dalam apresiasi puisi
a.       meningkatkan keterampilan siswa dalam mengapresiasi,
b.      meningkatkan keterampilan membaca puisi dengan memanfaatkan media film
c.       meningkatkan kemampuan dalam merumuskan kalimat yang tepat dalam mengomentasi puisinya,
d.      meningkatkan dan memupuk keterampilan menyusun puisi yang baik,
e.       mempertajam proses berpikir siswa
f.        memberikan pengalaman mengapresiasi puisi
g.       memberikan pengalaman menulis puisi.
h.      Memberikan pengalaman mendengarkan puisi


5.       Pembelajaran Apresiasi puisi dengan Teknik membuat presentasi pembacaan puisi dengan media Film
Dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah pengajaran dan pembelajaran. Kedua istilah tersebut sering ditafsirkan dengan makna yang sama pula. Sebenarnya, kedua istilah tersebut berbeda. Istilah pengajaran lebih berorientasi kepada guru sebagai pengajar, sedangkan istilah pembelajaran cenderung berorientasi kepada siswa selaku pembelajar.
            Sehubungan dengan uraian di atas, Hamalik (1994:57) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
            Melalui definisi di atas kita dapat memberikan batasan pembelajaran membaca puisi sebagai proses belajar mengapresiasi puisi yang didukung oleh serangkaian komponen pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran memahami puisi.
            Membaca puisi merupakan salah satu bagian dari pembelajaran sastra mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.  Memahami puisi tidak mudah. Bahasa puisi berbeda dengan bahasa yang digunakan pada umumnya. Penyair sengaja memilih kata-kata yang indah, yang dapat menimbulkan kemerduan bunyi dan sekaligus dapat menggambarkan ide yang ingin disampaikan dengan tepat. Cara penyai menyampaikan ide pun tidak secara langsung, tetapi melalui symbol-simbol, perbandingan-perbandingan, dan kiasan-kiasan. Selain itu, kata-kata dalam puisi amat terbatas karena penyair “ membuang” kata-kata yang tidak terlalu penting
            Berdasarkan uraian di atas, untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasi puisi maka digunakan media film dalam pembelajaran membaca dan mendengarkan puisi. Dalam penerapannya untuk pembelajaran menulis puisi di sekolah media film ini bertujuan mengubah bentuk  puisi  menjadi sebuah film puisi. Puisi yang ditulis siswa disusun dalam sebuah tayangan film dimana siswa sendiri menjadi actor dalam pembacaan puisi  
            Dalam praktiknya, setiap siswa diberi kebebasan untuk menggunakan bentuk  film baik film cerita, film dokumenter, maupun modifikasi pada saat menyusun film. Dengan kata lain siswa diberi kebebasan untuk memerankan salah satu tokoh yang ada dalam puisi tersebut. Mereka bebas mengubah latar, sudut pandang, alur, memberi nama orang, tempat, bahkan siswa diberikan kebebasan untuk memutarbalikkan tema puisi pada film yang akan dibuat.
6.     Langkah-langkah Presentasi Pembacaan Puisi dengan Film
Setiap proses akan mengalami sebuah tahapan. Demikian juga dengan apresiasi puisi dengan media film. Langkah atau tahapan teknik film project tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Menulis puisi
Proses menulis puisi bergantung dengan imajinasi dan kreatifitas siswa. Siswa di beri acuan untuk menulis puisi dengan memberikan efek puisi yakni lima citraan yakni citraan penciuman, perabaan, penglihatan, pencecapan, pendengaran dan memasukkan beberapa gaya bahasa misalnya: metafora, litotes, personifikasi
b.       Memahami puisi
Proses memahami puisi yang ditulis bisa dilakukan dengan cara yakni memahami unsure-unsur intrinsic puisi. Siswa berusaha menemukan tema, latar, tokoh, dan alur syair lagu yang merupakan suatu rangkaian suatu cerita.
c.        Membuat Story board sederhana
Siswa berusaha membuat paraphrase puisi yang sudah disusun dan mengubahnya  story board untuk dijadikan sebuah tayangan film. Storyboard adalah sebuah rencana atau alur cerita dalam sebuah film.
d.       Pengambilan gambar
Siswa melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan alat perekam video recorder
e.        Mengedit gambar
Dalam mengedit gambar, semua dilakukan dengan kreatifitas. Karena film mengandung unsur gambar, suara maka siswa diminta untuk memadukan kedua hal tersebut menjadi karya yang menarik

  1. Penerapan dalam kelas
Pembelajaran menggunakan teknik pembacaan dengan media film dapat dilakukan dengan beberapa cara. Guru sebaiknya membuat perencanaan yang baik untuk  melaksanakan kegiatan ini dengan baik.
Guru perlu menerangkan dan menjelaskan melalui beberapa tahapan sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.
Kegiatan awal
·         Penjelasan konsep kegiatan
·         Penjelasan teori Puisi
·         Penjelasan teknis  kegiatan

Kegiatan Inti
·         Menyusun Puisi
·         Merekam pembacaan puisi
·         Mengedit hasil rekaman

Kegiatan akhir
·         Mempresentasikan di depan kelas
·         Mengomentari hasil pekerjaan siswa lainya
·         Evaluasi  berupa penilaian dan pemberian penghargaan bagi hasil terbaik

Awal mula yang perlu disiapkan adalah penguasaan materi mengenai cara penulisan puisi kemudian cara pembacaan puisi dan menyusunnya dalam bentuk film. Sesuai dengan urutan kegiatan tersebut di atas maka akan dijelaskan uraian kegiatan sebagai berikut.
1.                 Kegiatan Awal
Kegiatan awal dapat dilaksanakan dengan metodceramah karena berupa penjelasan-penjelasan berupa: penjelasan kegiatan dari awal hingga akhir dan uraian latar belakang kegiatan . pada bagian awal guru akan menjelaskan mengenai beberapa teori puisi yang berguna untuk bekal memahami puisi, penjelasan mengenai cara menulis puisi, cara membaca puisi dengan member contoh peragaan, kemudian cara merekam pembacaan hingga penjelasan mengenai pengeditan. Penjelasan ini juga sebaiknya dilakukan pula untuk mengingatkan kembali para siswa ketika kegiatan inti berlangsung.
Perlu pula dikemukakan mengenai pelaksanaan teknis kegiatan perlu diatur waktu pengerjaan kemudian materi puisi yang akan dikerjakan bahkan perlu juga pemberitahuan kepada siswa mengenai perralatan-peralatan yang digunakan
Penjelasan mengenai criteria –kriteria yang harus dipenuhi oleh para siswa misalnya : panjang puisi, durasi film, keaslian music pengiring, teknis pengambilan gambar dan sebagainya disesuaikan dengan kebutuhan penilaian dan kualitas hasil kerja
2.                 Kegiatan Inti
 Kegiatan pembelajaran dengan arahan guru pembimbing ketika membuat puisi, macam-macam teknik yang digunakan misalnya membawa ke suatu tempat tertentu, dengan transformasi lagu, dengan teknik transformasi puisi lainya, dengan merenungi kisah kehidupan dan lain-lain.
Kegiatan membaca puisi dapat dilakukan di suatu ruangan atau di luar ruangan diserahkan kepada perencanaan para siswa dan storyboard yang akan dilakukan. Perekaman dapat pula dilakukan di luar sekolah. Hal ini bisa dilakukan untuk penugasan siswa
Kegiatan pengeditan dapat dilakukan dengan arahan guru dan bisa bekerja sama kepada siswa yang lebih mahir. Kerja sama diberikan kepada siswa untuk membantu guru memudahkan secara teknis pengeditan

3.                 Kegiatan penutup
 Kegiatan ditutup dengan penampilan hasil karya siswa satu persatu dan diberikan kesempatan berdiskusi satu persatu. Kegiatan ini pula dapat dilakukan dengan mengundang siswa lainnya sehingga dapat memberikan diskusi yang objektif


BAB III
PENUTUP

             
            Belajar apresiasi sastra pada dasarnya adala belajar tentang hidup dan kehidupan. Melalui karya sastra,  manusia akan memperoleh asupan batin, sehingga sisi-sisi gelap dalam kehidupan bisa tercerahkan lewat kristalisasi nilai yang terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya sebagai layar tempat diproyeksikan pengalaman psikis manusia.
            Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak maju. Kehadiran sastra dirasa semakin penting untuk disosialisasikan melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai diharapkan para alumnus  pendidikan mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan dewasa.
            Pengajaran sastra di sekolah sangat beragam, mulai dari pengenalan sejarah sastra, pengajaran yang isinya teori tentang penulisan karya sastra, dan pengajaran apresiasi sastra yang melibatkan unsur teori dan emosi. Kegiatan apresiasi ini sangat diperlukan dalam pengajaran sastra. Dalam kegaiatan apresiasi, siswa akan dapat lebih memahami karya sastra.
            Banyak kritikan yang disampaikan terhadap pengajaran sastra, misalnya siswa tidak terlibat dengan kegiatan membaca dan menelaah sastra, dan gurupun tidak mempersiapkan diri dengan landasan pembelajaran sastra.
            Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pengajaran sastra kurang mengarah pada segi apresiatif. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor sarana buku pelajaran, guru, sistem ujian, dan sastra Indonesia itu sendiri.  
            Dari sekian banyak kerancuan dan pergolakan dalam dunia sastra, media pembelajaran sastra merupakan sesuatu yang perlu dikaji dan ditilik keberadaanya. Karena bukan tidak mungkin dari permasalahan ini akan berimplikasi kepada hasil karya lainnya.  Keterkucilan bidang sastra, sekaratnya pasar dan lesunya penjualan buku sastra, dan keengganan para siswa membaca buku-buku sastra, minimnya kuantitas dan kualitas koreksi terhadap karya sastra. Hal ini berimbas kepada kemampuan untuk berekspresi dalam sastra, sangat sulit kita temukan saat ini para anak muda bangsa yang gemar membaca puisi, atau gemar bermain drama.
            Untuk mengatasi masalah di atas, guru selaku fasilitator dalam pembelajaran harus mampu menciptakan inovasi dalam pembelajaran. Salah satu inovasi yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan media film dalam pembelajaran. Teknik ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi kebosanan siswa saat belajar sastra, contohnya membaca puisi. Teknik  ini  adalah teknik yang menggunakan media film untuk menayangkan pembacaan puisi yang dibuat sendiri
             
            Berdasarkan uraian di atas, untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis puisi dan membaca puisi maka digunakan media film untuk mempresentasikan. Dalam penerapannya untuk pembelajaran apresiasi puisi di sekolah penggunaan media film ini bertujuan untuk mengeksplorasi bakat siswa untuk terampil dalam membaca puisi dengan kreatifitas
            Dalam praktiknya, setiap siswa diberi kebebasan untuk menggunakan jenis-jenis program video editing yang mudah digunakan. Dengan kata lain siswa diberi kebebasan untuk berkreasi dalam bentuk film apapun. Semoga dengan media film menjadi alternative pembelajaran yang menyenangkan bagi pendidikan di Indonesia.
SEKIAN

2 komentar:

  1. asalamualaikum,
    kak, boleh gag minta videonya kak
    sebagai contoh referensinya kak,
    makasii :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wasalam
      boleh saja vivi, namun filenya cukup besar, coba kirim emailmu ke pujo.leksono98@gmail.com, atau twiter di @papuj atau pujo.leksono@facebook.com

      Hapus