text

Welcome to Audacia-papuj.blogspot.com and have a new world

Jumat, 19 Agustus 2016

Kin kao re yang

" Kin kao re yang" adalah bahasa Thailand  yang artinya "sudah makan belum?". Kalimat tanya tersebut sering muncul setelah ucapan salam pada sebuah percakapan. Kalimat tersebut menjadi tradisi percakapan di Thailand yang banyak terdengar dalam percakapan informal. Percakapan antarorang tua, orang muda dan orang dewasa, remaja, anak-anak, orang Thai dengan orang Asing.Berikut beberapa hal pandangan mengenai kalimat tanya tersebut.

Orang Thailand memang sangat akrab satu sama lain. Kalimat tanya  "Kin kao re yang" ingin menyampaikan bentuk keakraban. Kedekatan personal antar pribadi orang Thai selalu dibina setiap saat. Orang Thailand menanyakan kalimat pertanyaan tersebut sengaja sebagai  alat untuk membuka percakapan. Entah jawaban yang akan diterima maupun tidak ada jawaban sama sekali tetapi kalimat pertanyaan tersebut adalah awal pintu membuka percakapan. Harapannya tentu saja akan dijawab si penanya, lalu muncul percakapan-percakapan selanjutnya. Intinya adalam membangun komunikasi.

Lewat kalimat pertanyaan "kin kao re yang"   artinya meminta respon dari orang yang ditanyai bisa menjawab  "kin laew"sudah atau  "yang krub/ka " belum". Lawan bicara yang ditanyai tentu saja merasa akan bahagia karena diberi perhatian. Perhatian ini akan menimbulkan situasi perasaan senang yang dialami oleh lawan bicara. Orang Thailand suka memberi perhatian kepada orang lain. Perhatian secara pribadi kepada orang lain akan menimbulkan suasana batin yang nyaman antarsesama bukan.

Lebih dalam lagi arti "Kin kao " artinya "makan nasi" . Belum makan pengertiannya bila belum makan nasi. Jadi sering kali muncul pertanyaan " Kin kao re yang" walaupun sudah makan roti atau makan mie. karena pengertian makan berarti makan nasi.

One of the most immediately recognizable images of Thailand's physical landscape is that of emerald-green paddy-fields. Thailand is one of the world's major producers of rice (khao) which as a dietary staple and prime export crop has had pivotal role in the Thai socio-cultural universe (Hlm. 23, Maurizio Peleggi 2007). Thailand sebagai negara penghasil beras terbesar di dunia memiliki budaya yang dekat dengan padi, beras, nasi. Tradisi makan nasi adalah tradisi masyarakat dari Asia pada umumnya. Nasi sebagai makanan pokok bagi orang Thai. Keseharian kehidupan mereka tidak terlepas dari makan nasi.

Mungkin pandangan di atas terlalu naif dan berlebihan, namun kebiasaan menanyakan hal yang berkaitan sudah makan nasi atau belum adalah tradisi komunikasi bangsa- bangsa di Asia. Orang Korea, China, Jepang, Indonesia mempunyai kebiasaan yang sama. Jelas berlainan dengan kebiasaan bangsa Eropa dan Amerika. pertanyaan sudah makan belum bukan hal yang lumrah bagi orang barat.

Tak salah kalau kalimat ini dilontarkan kepada rekan atau sahabat dari Thailand untuk sekadar membuka komunikasi. Silakan belajar mengucapkan kalimat tanya ini " Kin kao re yang?"  untuk mengawali percakapan dengan orang Thai. Semoga Anda bisa memulai percakapan dengan orang Thai dan tahu apa latar belakang kalimat tanya " Kin kao re yang".

Nah, tulisan singkat ini seperti pepatah "Nasi sedap gulai mentah, gulai sedap nasi mentah" yang artinya serba tidak sempurna. Semoga berguna bagi rekan-rekan yang akan pergi berkunjung ke Thailand. Selamat makan bersama dengan orang Thai dan jangan lupa ceritakan kepada saya percakapan apa yang muncul selanjutnya.

Reference

Mohd, Ainon dan Abdulah hasan. 2010. Kamus Pepatah Bidalan dan Perumpamaan, edisi kedua. Selangor: PTS Profesional.
Peleggi, Maurizio. 2007. Thailand The worldly kingdom. United Kingdom: Reaktion Books.





Belajar Tata Bahasa Thailand




Buku kedua berjudul Thai An Essential Grammar menyediakan up date terbaru dan panduan mempelajari tata bahasa Thailand. Buku ini ditulis oleh David Smyth dosen senior di School of Oriental and African Studies, University of London. Penerbit Routledge menerbitkan pada tahun 2002.

Buku ini berisi topik-topik penting  seperti kalimat, negasi, pertanyaan dan ukuran. Contoh diberikan dalam bahasa Thai dan penerjemahan dalam huruf latin. Terdapat pula bagian yang membahas pengucapan dan lain-lain.

Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris sehingga dapat dipelajari oleh semua kalangan. Apakah sudah ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. Sampai saat ini saya belum menemukannya.

Saya senang membaca buku ini membantu saya untuk mempelajari tata bahasa. Sehingga dapat diterapkan dalam penggunaan sehari berkomunikasi dengan orang Thailand. Bila pembaca tertarik mempelajari bahasa Thai. Saya menganjurkan membaca buku ini. Selamat belajar Sawadee krub.

Sabtu, 03 Januari 2015

Tentang /ร/ huruf R dalam alfabet bahasa Thailand

Berikut dibahas dari terjemahan buku Reading and Writing Thai. Sebuah buku karya Marie - Helena Brown. Pada bab 11 membahas mengenai pemakaian huruf /r/  What to know and remember about ร /r/ dalam huruf alfabet "when not in initial position" ketika pada kedudukan tertentu.

1. di posisi akhir sebuah kata

A) ร dibaca /-n/ketika berada di posisi suku kata terakhir dan ketika diawali dengan huruf vokal misalnya : อาหาร /?aaha^an/ artinya makanan
catatan
ร pada posisi di tengah akan menjadi akhir dari suku kata, dibaca /-n/ atau /ra?/tetapi tidak dapat memiliki fungsi bersamaan.

misalnya:มารดา /maandaa/ (bunda)
วารสาร /waara?saan/ (majalah)
สารบาณู/saara?baan/ (daftar isi)

pengecualian

เจรจา /jeenra'?jaa/ (menegosiasikan)
B) ร dibaca /-oon/ ketika berada di posisi akhir suku kata tanpa penulisan vokal
contoh:มคร /na'?khoon/ (kota)

2. Senyap setelah huruf ท ศ atau ส
A) kombinasi ทร sering dibaca /s-/
contoh ทราบ /saap/ (mengetahui) ทราย /saay/ (pasir) ทรุด /sut/ (mereda)

B) Kombinasi ศร sering tak bersuara atau senyap , /s/
contoh :
ศรัทธา /sa'ttha/ (iman,kepercayaan)
ศรย /say/ (gubuk)
ศราทธ์ /saat/ (kepercayaan)

C) Kombinasi สร  ร is often silent, /S-/
contoh:
สระว่ายนำ้ /sa'?wa^ayna'am/ (kolam renang)
สร้าง /sa^an/ (membangun, membuat)
เสร็ง /set/ (selesai, lengkap)
เสริด /seat/ (mencapai, cepat, tanda)

D) Ketika menemui satu dari tiga kombinasi pada kata baru, disarankan untuk memperhatikan pengucapan di dalam kamus dengan bunyin /-a?/atau /-aa/, adalah diucapkan di antara dua konsonan di beberapa kata.
contoh
ทรมาม  /toraman/ (menundukkan dengan menghukum)
สระ /sa?ra?/ (vokal, huruf vokal)
สรัระ /sa?rirra/ (tubuh)
สรุบ /sa?rup/ (menyimpulkan)

E) Pengecualian
Kata yang perlu diingat hanya kata yang terdengar senyap disebelah huruf จ
จริง /Jring/ (sungguh)
bersambung...

Referensi
Marie-Helene Brown. 1993.Reading and Writing Thai. Edition Duangkamol Siam Square, Bangkok, Thailand.

Selasa, 18 November 2014

Mau tinggal atau belajar di Thailand Baca buku ini

Ini adalah buku untuk para pengunjung, pelajar atau pebisnis yang ingin berkunjung atau tinggal di Thailand. Culture Shock a guide to customs and etiquette Thailand. membahas tata cara dan budaya di Thailand secara umum.


Penulis  Robert dan Nanthapa Cooper
Penerbit : Times Books International
ISBN 981 204 157 5

" The wai is not just a way of saying hello without using words, it is an action of respect"menyembah bukan hanya sebuah salam tanpa kata, ini adalah bentuk rasa hormat.

salah satu kalimat yang menjelaskan arti penghormatan dalam buku ini

Techniques and Principles in Language Teaching

Buku ini membantu guru BIPA dalam pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua


Penulis: Diane Larsen-Freeman
Penerbit : Oxford University Press
Tahun : 2000
ISBN: 019 4355748

Menjelaskan pemahaman metode-metode  mengajar bahasa kedua. Metode mengajar The grammar-Translation method, The direct method, The Audio-Lingual method, The silentway, Desuggestopedia, Community Language learning, Total Physical response, Communicative Language Teaching, Content -based, Task based, and Partipatory Approaches, Learning Strategy Training, Cooperative Learning, and Multiple Intellegences. Dijabarkan berdasarkan pengalaman, pendalaman berdasarkan prinsip-prinsip pengajaran, ulasan tentang prinsip-prinsip pengajaran, ulasan tentang teknik-teknik mengajar, kegiatan yang dapat dilakukan, serta kesimpulan. Pada bagian akhir bab selalu disertai referensi buku.

Sebagai salah satu contoh adalah metode CCL yang menggunakan contoh penerapan pada penguasaan bahasa Indonesia. Contoh ini menarik bagi para pengajar BIPA.

Penulis menyampaikan hal penting sebagai seorang pengajar bahasa,
As a teacher of language, you have to thoughts about your subject matter-what languages is, what culture is-and about your students- who they are as learners and how it is they learn. You also have thoughts about yourself as a teacher and what you can do to help your students learn. (p1. Diane Larsen)

Demikian pula pada bagian simpulan
In order to move from ideology to inquiry, teachers need to inquire into their practice. They need to reflect on what they do  and why they do it, and need to be open to learning about the practices and research of others. They need to interact with others, and need to try new practices in order to continually search for or devise the best method the can for who they are, who their students are, and the conditions and context of their teaching. (p 187)

semoga menjadi refleksi dalam mengajar bahasa.

Sabtu, 08 November 2014

Comedy



Pengarang Andrew Stott
beliau adalah Asisten Professor Universitas negeri di New York, Buffalo.

ISBN 0-415-29932-2 (hbk)
diterbitkan tahun 2005
oleh Routledge

Buku yang mengulas apa itu Komedi? Penulis mengupas perubahan istilah semenjak masa Aristoteles hingga Chris Morris Brass Eye melalui Oscar Wilde dan Some Like it Hot.
Pada bagian pengantar ada kutipan yang menarik. Tragedi adalah ketika saya memotong jari saya. Komedi adalah ketika Anda menjatuhkan kotak jarum dan tertusuk dan Anda mati.(Mel Brooks)

Buku ini disusun ke dalam enam bab yang disertai pula dengan Glossary dan rekomendasi buku bacaan yang lain. Buku ini menarik bagi pembaca yang menggemari Budaya dan Sastra khususnya drama. lebih jauh bisa di akses di www.routledge.com

Sebuah kutipan di bagian penutup Bab.
Ada sebuah cerita tetang seorang lelaki yang menderita karena depresi yang menemui dokternya. Setelah diperiksa, Psikiater memutuskan dan berkata, " Hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Anda. Anda harus pergi dan menemui Grimaldi si badut itu. "Tuan" kata pasien itu, saya Grimaldi si Badut itu" (Dickens,1968:13)
inilah sebuah kutipan yang digunakan penulis untuk mengungkapkan komedi bisa juga berarti ekspresi kesedihan dan kesenangan.
Selamat membaca.Selamat menyelami dunia komedi di komedi dunia. hahaha.

Minggu, 07 April 2013

Komentar Pengakuan Eks Parasit Lajang





Kejujuran dan Metafora
Oleh: Pujo

Komentar berikut menggunakan cara induktif dengan teropong  gaya bahasa dan sendi-sendinya. Komentar  ini adalah sorotan yang berpeluang subjektif. Belajar dari H.B.Jassin.



Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Keraf. Hlm:113). Gaya bahasa yang baik tidak bisa lepas dari sendi-sendinya yang terdiri dari tiga unsur yaitu kejujuran, sopan-santun dan menarik. Gaya bahasa tidak akan mengaburkan kejujuran, menjauhkan kesopanan atau membuat cerita tidak menarik. Gaya bahasa memberi ketepatan, kejelasan dan tenaga bagi cerita.
Gaya bahasa metafora adalah perubahan makna karena persamaan sifat antara dua obyek. Ia merupakan pengalihan semantik berdasarkan kemiripan persepsi makna. Kata matahari, putri malam (untuk bulan), pulau (empu laut) semuanya dibentuk berdasarkan metafora (Keraf.Hlm: 98-99). Menurut Aristoteles, metafora adalah  gaya bahasa kiasan yang berkembang dari analogi, baik itu analogi kuantitatif dan kualitatif. Contoh: Raja singa telah pergi keperaduannya, Dewi malam telah keluar dari balik awan, Si penguasa laut berkeliaran kesana kemari, Pengakuan  Eks Parasit Lajang.
Bila dalam sebuah metafora, kita masih dapat menentukan makna dasar dari konotasinya sekarang, maka metafora itu masih hidup misalnya Perahu itu menggergaji ombak, kata menggergaji masih hidup dengan arti aslinya. Tetapi kalau kita tidak dapat menentukan konotasinya lagi, maka metafora itu sudah mati, sudah merupakan klise. Dengan matinya sebuah metafora, kita berada kembali di depan sebuah kata yang mempunyai denotasi baru (Keraf,Hlm.:139).
Metafora dapat berbentuk sebuah kata kerja, kata sifat, kata benda, frasa, klausa: menarik hati, memegang jabatan, mengembangkan, menduga. Bentukan metafora juga bersal dari berbagai unsur yaitu tumbuhan, hewan, alam, tubuh manusia, suasana, temapat dan lain-lain. Metafora bercitra hewan, biasanya digunakan oleh pemakai bahasa untuk menggambarkan satu kondisi atau kenyataan di alam sesuai pengalaman pemakai bahasa. Metafora dengan unsur binatang cenderung dikenakan pada tanaman, misalnya kumis kucing, lidah buaya, kuping gajah.
Metafora dengan unsur binatang juga dikenakan pada manusia dengan citra humor, ironi, peyoratif, atau citra konotasi yang luar biasa, misalnya, fable dalam Fabel MMM yang dikutip oleh Parera terdapat nama-nama seperti Mr. Badak bin Badak, Profesor Keledai, dan Majelis Pemerintah Rimba (MPR), dan lain-lain.Dalam metafora bercitra hewan diungkapkan oleh Parera (2004:120) bahwa manusia disamakan dengan sejumlah tak terbatas binatang misalnya dengan anjing, babi, kerbau, singa, buaya, dst sehingga dalam bahasa Indonesia kita mengenal peribahasa “Seperti kerbau dicocok hidung”, ungkapan “buaya darat”, dan ungkapan makian  ”anjing, lu”, dan seterusnya. Bagaimana dengan metafora “Eks Parasit Lajang”?


Cuplikan Novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang”
Cerita di awali dengan bab seorang gadis yang melepas keperawanannya dan menjadi peselingkuh. Bab ini  diawali dengan perkenalan sang tokoh A yang digambarkan sebagai remaja yang pada usia dua puluh aku memutuskan untuk menutup masa perawan.Namun keputusan tersebut  memunculkan sebuah pertanyaan kembali kepada siapa lelaki ideal yang tokoh inginkan? “Begitulah, sekali lagi, aku telah memutuskan untuk menutup masa perawanku. Tapi, siapa lelaki itu?” (Hlm. 11)
Dua lelaki itu ternyata adalah Nik dan Mat yang diharapkan memiliki agama yang sama. Tokoh A beragama katolik dan dua lelaki tersebut beragama berbeda dengannya. Konflik mulai muncul ketika  tokoh A mulai dekat dengan Mat dan kemudian tokoh A mulai tertarik pada lelaki yang bernama Nik dan pada bab skala tokoh sudah memiliki dua pacar. Pada suatu titik tokoh A harus mengambil keputusan, dan tokoh A sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Mat dengan alasan Indeks prestasi menurun.  Walaupun akhirnya ia jujur bahwa sudah ada lelaki lainnya. “ ia Tahu cinta memang tidak bisa dipaksakan”  (Hlm.28)
Kebimbangan itu  mulai muncul “ Sementara ini, kini Nik adalah pacarku ketika usiaku duapuluh tahun dan aku merasa matang untuk menutup masa perawanku. Aku mau melakukannya dengan Nik, meskipun aku belum yakin betul dengan keputusanku. Sebab sesungguhnya kami berdua datang dari keluarga yang taat beragama. (Hlm 29). Ada perumpamaan yang menutup bab ini perlu disimak “Seperti Adam seandainya ia menyalahkan Hawa karena buah Pengetahuannya yang dimakannya itu. Lalu sunyi sebentar. Seperti sunyi setelah guncang. Setelah itu mereka menginginkannya lagi. Begitulah. Setelah rantai reaksi ini terjadi beberapa kali, barulah mereka tahu bahwa tak ada lagi gunanya marah.Pada bab Pavlov, Puncaknya, aku betul-betul tidak sanggup mendamaikan konflik antara iman dan seksualitas (Hlm. 44). Cerita selanjutnya silakan baca novelnya.
Unsur Kejujuran Berbahasa
Kejujuran dalam bahasa  berarti mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa (Keraf.Hlm.: 114). Aturan berbahasa ini hakikatnya bukan hanya tata tulis saja. Aturan dan kaidah tersebut berkaitan dengan kata-kata yang jelas dan tidak kabur. Berikut kalimat-kalimat yang secara tepat untuk menunjukkan kejujuran berbahasa, Aku bukan perawan lagi. Ini tahap baru dalam hidupku (39). Aku telah berselingkuh dengan suami orang (71). Aku kini gadis yang memutuskan untuk melepas keperawananku (158), Aku tak mau menikah dengan siapapun (193)  Hal  itu dideskripsikan dengan lugas dan jelas. Kejelasan terbukti tanpa mengaburkan makna kata bukan perawan, telah berselingkuh, melepas keperawananku, tidak mau menikah. Pernyataan tokoh A tersebut mewakili unsur gaya bahasa yang baik yaitu kejujuran.
Perkara untuk mengungkap bahasa tokoh yang jujur bukan perkara yang mudah bagi manusia Indonesia terutama seorang perempuan lajang.  Menurut  Mochtar Lubis dalam “Manusia Indonesia” dengan tegas ia mengatakan “Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRIT alias MUNAFIK (Lubis: 18). Kalimat tersebut jujur menohok sekian juta penduduk Indonesia jika harus diganti pernyatan beliau dengan “salah satu ciri yang menonjol ialah tidak mengatakan suatu hal yang sebenarnya karena tidak enak hati (rasanya cukup panjang dan bertele-tele bukan). Manusia indonesia suka berpura-pura, lain dimuka, lain di belakang, dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan luar untuk menyembunyikan apa yang dirasakan.
Pembicara atau penulis yang tidak menyampaikan isi pikirannya secara terus terang; ia seolah-olah menyembunyikan pikirannya itu di balik rangkaian kata-kata yang kabur dan jaringan kalimat yang berbelit-belit tak menentu. Ia hanya mengelabuhi pendengar atau pembaca dengan mempergunakan kata-kata yang kabur dan “hebat” agar ia tampak lebih intelek atau lebih dalam pengetahuannya. Di pihak lain, pemakaian bahasa yang berbelit-belit menandakan bahwa pembicara atau penulis tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Ia mencoba menyembunyikan kekurangannya  di balik berondongan kata-kata hampa (Keraf.Hlm.114). Novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang” dihiasi dengan metafor-metafor yang tepat untuk mengonotasikan arti keperawanan, status perempuan, laki-laki, pernikahan, keluarga, dan lain-lain.
Metafora “Pengakuan Eks Parasit lajang”
Pada novel  setebal 302 halaman ini berderet kata-kata, frasa, klausa. Elemen-elemen itu   membangun cerita. Kata-kata tersebut secara sadar maupun tidak sadar menyatu, bertransformasi membentuk metafora untuk menandai objek lainnya. Metafora terbangun dari berbagai unsur seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, alam dan lain-lain. Berikut adalah unsur-unsur yang ditemukan dalam novel pengakuan eks parasit lajang 1)unsur-unsur hewan misalnya: parasit lajang, anjing pavlov, sarang penyamun, raja semut, prajurit gajah, monster, kepala piranha,2) unsur tanaman misalnya:  pohon pengetahuan,3)unsur alam misalnya:  matahari, 4)unsur sifat benda misalnya: tertangkap basah, sikap manis, karirnya redup, bujang lapuk, 5)unsur menunjukkan lokasi tempat dan waktu misalnya:  kantin sastra, media jepang, tepi semanggi, koran waktu, istana patriarki, jurang hitam, kota hujan lembah hutan, taman firdaus, benteng perkawinan, 6)unsur  tubuh manusia misalnya:  besar mulut, susumu saru (bahasa jawa) : payudaramu tabu, serangan jantung, bertalian darah dll.
Metafor-metafor tersebut mengandung kiasan kiasan yang dibatasi konteksnya. Konteks perempuan di lingkungan tatanan nilai Indonesia. Metafor-metafor itu berdiri sendiri sebagai kata untuk menandai objek, tempat, sifat, tindakan dan lain-lain.  Metafor “Eks Parasit Lajang” dibatasi pada konteks cerita. Konteks di dalam novel saja. Konteks tokoh A dengan segala pengakuannya. Konteks pengakuan seperti pengakuan St. Agustinus.
Metafor dari “pengakuan eks parasit lajang” tidak dapat dipisahkan satu persatu bagian saja, namun harus dilihat secara keseluruhan. Eks parasit lajang untuk menandai tokoh A status  lajang; bujang atau gadis  yang memiliki kemiripan sifat hewan parasit yakni organisme yang hidup dari inangnya. Parasit dalam KBBI adalah benalu yakni  tumbuhan yang hinggap dan menghisap pohon yang lain. Eks parasit lajang dapat didefinisikan mantan gadis atau bujang yang menumpang hidup pada orang lain. Definisi tersebut untuk menandai sifat tokoh A dalam cerita. Tokoh A yang mengakui dirinya tidak perawan lagi dan akhirnya menikahi suami orang lain maka ia ditandai oleh metafor pengakuan eks parasit lajang.
Metafora yang terkandung dalam novel Pengakuan eks Parasit Lajang kaya, variatif dan tepat. Terbentuknya metafora tersebut melalui  proses yang panjang, lewat pengamatan, pengindraan, pemikiran. “Bahkan tanpa membutuhkan penyuntingan oleh editor.  Itulah yang disebut bakat”. Pernyataan itu tercermin dalam  kutipan  berikut “Aku menemukan bakatku. Semua yang kutulis tak membutuhkan penyuntingan oleh editor. Strukturku baik. Logikaku lurus. Bahasaku cermat. Humorku ada. Metaforku kaya.” (Hlm. 65). Gaya metafora  menjadi ciri khas yang menonjol. Bagaimana jika gaya itu diubah? Bila gaya diubah, isi juga berubah. (Pradotokusumo:38).
Bila metafor ini dihubung-hubungkan dengan fokus pengarangnya. Maka novel ini sebuah karya berfungsi emotif. Fungsi emotif menggambarkan relasi pesan dan penerima: karya sastra merupakan hasil ekspresi penulisnya (Fiske, 2006:52). Dengan hanya berfokus pada pengarang, maka mempunyai potensi (1) konotasi pada biografi pengarang, (2) meninggalkan konotasi cerita kemudian hanya pada pengarang. Telaah itu justru menimbulkan sensasi saja akhirnya. Sensasi suka atau benci pada manusia (pengarang). Manusia nyata hanya menjadi diri mereka sendiri-kita boleh menyukai atau membenci mereka (Card: 40). Akan tetapi, tokoh A mengemban suatu tugas. Tokoh A diciptakan pengarang untuk melaksanakan tugas tersebut. Tugasnya sebagai pembuka pemikiran pembaca masa kini terhadap kemapanan tata nilai yang semu. Tugas menyampaikan kejujuran yang selama ini tersembunyi.
 Kesimpulan
Tokoh Aku yang menjadi pusat cerita, dengan segala tuturannya dan alur konfliknya dibangun sejujur-jujurnya tanpa tedeng aling-aling  (bahasa jawa) ; ditutup-tutupi. Tokoh aku dengan segala pengakuannya mewakili kejujuran bahasa itu sendiri.Untuk jujur tidak perlu menyembunyikan pikiran, perasaan dan apapun.  
Konotasi yang terkandung pada metafor menjadi konvensi kode cerita. Konotasi itu tak stabil  sesuai dengan sifatnya ( Eco:80) artinya konotasi pembaca satu akan berbeda dengan pembaca lainnya. Semua sangat bergantung pada proses di benak pembaca. Proses permenungan dan pemikiran. Maka silakan direnungkan.
Metafora dan kejujuran yang terangkai dalam cerita menjadi kekuatan pada novel ini. Metafor-metafor itu mewarnai kalimat demi kalimat  menjadi cerita yang menarik, menggelitik dan jujur. Kejujuran untuk menyatakan tanpa menyembunyikan sesuatu, tanpa berbelit-belit, tepat sasaran. Seperti diitulis jelas  dalam akhir prolog bahwa Buku ini adalah bagian dari perjalanan saya mengajukan pertanyaan dengan jujur mengenai hubungan pria dan wanita (Hlm.2).
Demikian sebaiknya sebuah karya modern semakin kaya bahasa, kaya metafora dan jujur.  Mengutip pernyataan H.B. Yasin, kita melihat betapa perlunya kita belajar memakai bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.


Bandung, April  2013

Sumber
Card, O.S.2005. Penokohan dan Sudut Pandang: mencipta sosok fiktif yang memikat dan dipercaya pembaca; penerjemah Femmy Syahrini; penyunting, Yuliani Liputo.-cet. 1-Bandung: Mizan Learning Center (MLC)
Eco, Umberto.1976. Teori Semiotika. Yogyakarta : Kreasi Wacana
Fiske, John.2006.Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar  Paling Komprehensif. Terj. Yosial Iriantana dan Idi Subandi Ibrahim. Yogyakarta: Jala Sutra
Keraf, Gorys. 2005.Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka
Lubis, Mochtar.2008. Manusia Indonesia (sebuah pertanggungjawaban). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Parera, Djos Daniel. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga
Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka
Pradotokusumo, P.S. 2001. Pengkajian Sastra. Bandung: Wacana